Selasa, 20 Maret 2012

CARA MENETAPKAN NASAB

CARA MENETAPKAN NASAB


a. Yang bersangkutan adalah anak kandung, anak hasil hubungan perkawinan seorang laki-laki dan perempuan yang sah menurut agama Islam. Rasulullah saw bersabda, ‘Dinamakan anak kandung karena hasil dari hubungan sah laki-laki dan perempuan berdasarkan syariat, sedangkan untuk anak hasil zina/pelacuran maka nasabnya adalah batu’.

b. Kesaksian yang didapat berdasarkan syariat yaitu kesaksian dari dua orang laki-laki, beragama Islam, sehat rohani, mampu berpikir, dikenal keadilannya. Khusus untuk syarat dua orang saksi yang adil, ia menyaksikan bahwa benar anak itu adalah anak kandung orang tuanya, atau menyaksikan bahwa anak itu adalah hasil dari perkawinan yang sah, atau menyaksikan bahwa anak itu sudah dikenal dan tidak diragukan lagi oleh masyarakat bahwa ia adalah anak kandung orang tuanya.
c. Adanya ketetapan atau keputusan dalam majlis hukum yang menyatakan bahwa anak tersebut benar anak kandung dari orang tuanya.

d. Sudah terkenal dan tersiar luas, sebagaimana Imam Abu Hanifah berkata, ‘Dengan terkenal dan tersiar luas maka nasab, kematian dan pernikahan dapat ditetapkan’. Ibnu Qudamah al-Hanbali berkata, ‘ Telah sepakat ulama atas sahnya kesaksian mengenai nasab dan kelahiran seseorang, karena nasab atau kelahirannya dikenal atau tersiar luas di kalangan masyarakat’. Berkata Ibnu Mundzir, ‘Saya tidak mengetahui ada ulama yang menolak hal itu’.

e. Datangnya seorang pemohon nasab dengan membawa nama ayah dan kakeknya dengan berbagai keterangan dari sisi sejarah dengan kesaksian yang terkenal dari para ulama atau hakim yang tsiqat mengenai kebenaran nasabnya.
Ibnu Qudamah. Al-Mughni, jilid 12 hal. 21.

Perhatian Khalifah terhadap silsilah keturunan Nabi saw
Yang pertama menuliskan silsilah keturunan di dalam buku khusus mengenai nasab ialah khalifah Umar bin Khattab yang mencatat dengan urutan pertama mulai dari keturunan bani Hasyim satu persatu baik laki-laki maupun perempuan. Kemudian barulah berikutnya khalifah Umar bin Khattab menggolongkan bangsa Arab, kemudian bangsa-bangsa lainnya yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Rasulullah saw.
Dalam kitab Ahkam al-Sulthaniyah karangan Mawardi dan kitab Futuh al-Buldan karangan Baladzuri, yang diriwayatkan oleh al-Sya’bi bahwa :
‘Umar bin Khattab berkata, ‘bahwa sesungguhnya sudah seharusnya bersikap kasih sayang kepada orang-orang yang memang berhak menerimanya’. Maka berkata orang-orang yang hadir, ‘Betul, engkau telah berbuat itu pada tempatnya, hai amirul mu’minin’. Lalu Umar bin Khattab bertanya : kepada siapakah aku harus memulai ? Mereka menjawab : mulailah dengan dirimu sendiri. Berkata Umar bin Khattab : Tidak, tetapi aku akan menempatkan diriku di tempat yang Allah telah tetapkan baginya, dan aku akan mulai pertama kali dengan keluarganya Rasulullah saw. Maka ia melaksanakan hal itu’.

Selanjutnya al-Sya’bi meriwayatkan :
‘Maka Umar bin Khattab memanggil Aqil bin Abi Thalib, Mahramah bin Naufal dan Zubair bin Muth’im, yang ketiganya terkenal sebagai ahli nasab bangsa Quraisy. Berkata Umar kepada mereka : Tuliskanlah olehmu menurut tingkatannya masing-masing. Lalu mereka mulai menulisnya pertama kali dari keturunan bani Hasyim, kemudian Abubakar dan kaumnya, kemudian Umar bin Khattab dan kaumnya sebagaimana susunan khilafat. Tatkala Umar melihat itu, maka berkata : Demi Tuhan, sebenarnya saya lebih menyukai penulisan keturunan yang semacam ini, tetapi lebih baik lagi jika engkau mulai dari keluarga Nabi Muhammad saw saja, dan yang paling dekat, dan yang paling terdekat, hingga engkau letakkan Umar di tempat yang Allah swt telah tentukan baginya’.
Dalam riwayat lain Umar bin Khattab berkata :
‘Demi Allah, kita tidak sampai kepada kesempurnaan di dunia ini, dan kita tidak mengharap balasan pahala atas perbuatan kita, melainkan sebab Muhammad saw, karena beliau yang menjadikan kemuliaan pada diri kita, dan kaumnya adalah yang paling mulia di antara bangsa Arab, kemudian yang paling dekat dan paling terdekat. Demi Tuhan, meskipun yang bukan Arab jika datang dengan membawa amal, sedang kita datang tanpa membawa amal, niscaya mereka (yang bukan Arab) lebih utama bagi Muhammad saw daripada kita di hari kiamat, karena siapa saja yang mengurangkan amal atas dirinya, tidaklah keturunannya akan bisa mengejar kepadanya‘.

Khalifah selanjutnya berbuat sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khattab hingga kepada pemerintahan Abbasiyah yang mengkhususkan urusan nasab dengan mendirikan kantor dalam hal pencatatan nasab yang dipimpin oleh seorang kepala (Naqib). Bani Abbas, bani Thalibiyin yaitu keturunan dari Abi Thalib masing-masing dipimpin oleh seorang Naqib. Begitu pula untuk keturunan para syarif, yaitu keturunan dari Hasan dan Husein di setiap kota dipimpin pula oleh seorang Naqib yang salah satu kewajibannya adalah menjaga dengan sebenar-benarnya keturunan nabi Muhammad saw.



a. Bertaqwa kepada Allah swt, takut terhadap segala bentuk godaan yang akan menimbulkan sifat khianat para ahli nasab dengan menetapkan, membuat atau mengeluarkan nasab seseorang yang bukan keturunan Rasulullah saw, baik dengan cara sogokan dalam bentuk materi (uang), hubungan kekeluargaan dan persahabatan, pemaksaan dari lain pihak dengan berbagai macam cara, sehingga ahli nasab tersebut tergelincir ke dalam kegiatan pemalsuan nasab.

b. Berlaku jujur agar tidak berbuat kebohongan dalam menetapkan, membuat atau mengeluarkan nasab seseorang yang bukan keturunan Rasulullah saw dan mampu menolak segala bentuk kecurangan seputar nasab.

c. Menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dilarang oleh syariat, berbuat yang hina dan dapat merendahkan martabatnya serta menghindari perbuatan yang dapat merusak kewibawaan sebagai seorang ahli nasab dengan sengaja melanggar syariat.

d. Istiqamah (konsisten) dalam menghadapi setiap masalah, jika ia telah menetapkan nasab seseorang keturunan Rasulullah saw berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan dan tidak melanggar aturan agama, mengkaji pendapat lingkungan, apalgi pendapat tersebut tidak mempunyai dasar dan fakta, serta tidak dapat dipertanggungjawabkan.

d. Seorang yang berkecimpung di bidang nasab haruslah orang yang benar-benar mengetahui ilmu nasab dan mempunyai ingatan yang kuat dan baik, mempunyai analisa yang luas dan mendalam seputar nasab, selalu menguasai dan menyandarkan pengetahuannya kepada syariat dan hukum Islam terutama hukum-hukum yang berkenaan dengan ahlu bait Rasusulullah saw.

e. Bersikap penuh dengan kehati-hatian, cermat dan teliti dalam berpikir, tidak tergesa-gesa dan mudah membuat keputusan tanpa pertimbangan yang matang.
f. Mempunyai jiwa yang besar dan tegar, agar tidak mudah cemas dalam menghadapi persoalan nasab, supaya tidak membawanya kearah kebatilan dan menjauhkan diri dari kebenaran.

g. Mempunyai tulisan yang bagus, karena seorang ahli nasab tidak pernah jauh dari urusan tulis menulis seputar silsilah keluarga Rasulullah saw.
Posted 8th June by Ali Murtadho bsa



Di antara kegunaan mempelajari ilmu nasab adalah :

Pertama, mengetahui nasab nabi Muhammad saw yang merupakan suatu keharusan untuk sahnya iman. Ibnu Hazm berkata : diantara tujuan mempelajari ilmu nasab agar seseorang mengetahui bahwasanya nabi Muhammad saw diutus oleh Allah swt kepada jin dan manusia dengan agama yang benar, Dia Muhammad bin Abdullah al-Hasyimi al-Quraisy lahir di Makkah dan hijrah ke Madinah. Siapa yang mempunyai keraguan apakah Muhammad saw itu dari suku Quraisy, Yamani, Tamimi atau Ajami, maka ia kafir yang tidak mengenal ajaran agamanya.

Kedua, sesungguhnya pemimpin itu berasal dari suku Quraisy. Berkata Ibnu Hazm : Dan tujuan mempelajari ilmu nasab adalah untuk mengetahui bahwa seseorang yang akan menjadi pemimpin harus anak cucu Fihr bin Malik bin Nadhir bin Kinanah.

Ketiga, untuk saling mengenal di antara manusia, hingga kepada keluarga yang bukan satu keturunan dengannya. Hal ini penting untuk menentukan masalah hukum waris, wali pernikahan, kafaah suami terhadap istri dalam pernikahan dan masalah wakaf.
Dari Abu Dzar al-Ghifari, Rasulullah saw bersabda :

‘Tidaklah seorang yang mengaku bernasab kepada lelaki yang bukan ayahnya, sedangkan ia mengetahuinya maka ia adalah seorang kafir. Dan siapa yang mengaku bernasab kepada suatu kaum yang bukan kaumnya, maka bersiaplah untuk mengambil tempat duduknya di neraka’.

Berkata al-Hafidz al-Sakhawi dalam kitab al-Ajwibah al-Mardhiyah, diriwayatkan oleh Abu Mus’ab dari Malik bin Anas, : Siapa yang menyambung nasabnya kepada keluarga Nabi saw (dengan cara yang bathil) maka orang tersebut harus diberi hukuman dengan pukulan yang membuat dia bertobat karenanya.’

Dari Said bin Abi Waqqas, Rasulullah saw bersabda :

‘Siapa yang mengaku bernasab kepada yang bukan ayahnya di dalam Islam, sedangkan ia mengetahui bahwa itu bukan ayahnya, maka surga haram baginya’.

Dalam kitab Nihayah al-Arab, syekh al-Qalqasyandi berkata :
‘Bukan rahasia lagi bahwa mempelajari ilmu nasab, ada hal yang difardhukan bagi setiap orang, ada yang tidak, dan ada pula yang dianjurkan. Misalnya mengenali nasab nabi kita, mengenali nasab-nasab orang lain dan agar tidak salah dalam memberlakukan hukum waris, wakaf maupun diyat. Seseorang yang tidak mempelajari ilmu nasab, sudah pasti ia akan salah bertindak terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah di atas’.

Dengan demikian jelaslah bahwa ilmu nasab adalah suatu ilmu yang agung yang berkaitan dengan hukum-hukum syara’. Siapa saja yang mengatakan bahwa mempelajari ilmu nasab itu tidak memberi manfaat dan tidak mengetahuinya pun tidak membawa mudarat, maka sesungguhnya mereka telah menghukum diri mereka sendiri melalui syetan yang selalu memperdayanya dengan menghiasi amalan mereka.
Istilah di kalangan ulama ahli nasab

Dalam kitab Risalah al-Mustholahat al-Khossoh bi al-Nassabin fi Bayan Isthilahat al-Nasabah li Ba’di Ulama al-Nasab dan kitab lainnya seperti Jami’ al-Duror al-Bahiyah karangan syaikh Dr. Kamal al-Huut ketua perkumpulan Sadah al-Asyraf Libanon[1], dijelaskan beberapa istilah yang digunakan oleh para ulama nasab, yaitu :
a. Shahih al-Nasab.
Nasab yang telah ditetapkan kebenarannya di sisi ulama nasab berdasarkan bukti-bukti dan naskah-naskah asli yang terkumpul pada ulama ahli nasab yang amanah, wara’ dan jujur.
b. Makbul al-Nasab.
Nasab yang telah ditetapkan kebenarannya pada sebagian ulama nasab tetapi sebagian lain menentangnya. Maka syarat diterimanya nasab tersebut harus melalui kesaksian dua orang yang adil.
c. Masyhur al-Nasab.
Nasab yang dikenal melalui gelar atau kedudukannya, akan tetapi nasabnya tidak dikenal. Di sisi ulama, nasabnya dikenal sedangkan pada kebanyakan orang nasabnya tidak dikenal karena adanya perselisihan satu sama lain.
d. Mardud al-Nasab.
Nasab yang disandarkan kepada satu qabilah/family, pada kenyataannya orang itu tidak menyambung nasabnya kepada qabilah/family tersebut, dan qabilah/family tersebut menolaknya. Maka statusnya termasuk golongan nasab yang ditolak di sisi ulama nasab.
e. Fulan Daraja.
Wafat tanpa meninggalkan anak.
f. Aqbuhu min Fulan/al-aqbu min Fulan.
Anak cucunya berasal dari fulan.
g. Fulan a’qab min fulan.
Anak cucunya tidak berasal dari fulan tetapi dari anak yang lain.
h. Fulan aulad/walad.
Fulan mempunyai keturunan.
i. Fulan Inqorodh.
Fulan tidak mempunyai anak cucu/terputus.
j. Fulan ‘Ariq al-Nasab.
Fulan ibu dan neneknya (dari ibu) berasal dari keluarga ahlu bait Rasulullah saw.
k. Huwa lighoiri Rosydah.
Fulan dilahirkan dari nikah yang rusak. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Baihaqi dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda : ‘Siapa yang bersambung nasabnya kepada anak yang nikahnya rusak, maka dia tidak berhak mewarisi dan diwarisi’.
l. Huwa min al-Ad’iyah.
Fulan adalah anak angkat seorang lelaki. Nasabnya kembali kepada bapak aslinya.
m. Ummuhu Ummu al-Walad.
Ibu dari fulan adalah seorang jariyah (budak wanita).
n. La Baqiyah Lahu.
Keturunan fulan habis/musnah.
o. Usqith.
Fulan tidak ditemukan nasabnya sebagai ahlu bait dikarenakan nasabnya tidak menyambung.

[1] Syaikh Dr. Kamal al-Huut, Jami’ al-Duror al-Bahiyah li Ansab al-Qurosyiyin fi al-Bilad al-Syamiyah, hal. 19.

Posted 31st May by Ali Murtadho bsa



Berfirman Allah swt dalam alquran :
‘Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, supaya kamu mengenal satu sama lain.
Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa’.[1]

Diriwayatkan oleh Ibu Asakir dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah saw bersabda :
‘Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Firh (Quraisy) bin Malik (bin al-Nadhir) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ah bin Adnan’.[2]

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Saad :
‘Ketika aku bertanya kepada Rasulullah saw : Siapakah aku ini ya Rasulullah saw ? Beliau saw menjawab : ‘Engkau adalah Saad bin Malik bin Wuhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah. Siapa saja yang mengatakan selain dari pada itu, maka baginya laknat Allah’.[3]

Diriwayatkan oleh Khalifah bin Khayyat dari Amr bin Murrah al-Juhni :
‘Pada suatu hari aku berada di sisi Rasulullah saw kemudian beliau saw bersabda : ‘Siapa yang berasal dari keturunan Maad hendaklah berdiri’. Maka aku berdiri tetapi Rasulullah saw menyuruhku duduk hingga tiga kali. Lalu aku bertanya : Dari keturunan siapa kami ya Rasulullah ? Beliau saw menjawab : ‘Engkau dari keturunan Qudha’ah bin Malik bin Humair bin Saba’.[4]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda :
‘Pelajarilah silsilah nasab kalian agar kalian mengenali tali darah kalian, sebab menyambung tali darah dapat menambah kasih sayang dalam keluarga, menambah harta dan dapat menambah usia’.
Berkata Umar bin Khattab :
‘Pelajarilah silsilah nasab kalian, janganlah seperti kaum Nabat hitam jika salah satu di antara mereka ditanya dari mana asalnya, maka ia berkata dari desa ini’.
Imam al-Halimi berkata :
‘Hadits-hadits tersebut menjelaskan tentang arti pertalian nasab seseorang sampai kepada leluhurnya, dan apa yang dikatakan nabi Muhammad saw tentang nasab tersebut bukanlah suatu kesombongan atau kecongkakan, sebaliknya hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kedudukan dan martabat mereka’.
Di lain riwayat dikatakan bahwa itu bukan suatu kesombongan akan tetapi hal itu merupakan isyarat kepada ni’mat Allah swt, yaitu sebagai tahadduts bi al-ni’mah. Sedangkan Imam Ibnu Hazm berpendapat bahwa mempelajari ilmu nasab adalah fardhu kifayah.
Pengarang kitab al-Iqdu al-Farid, Abdul al-Rabbih berkata :
‘Siapa yang tidak mengenal silsilah nasabnya berarti ia tidak mengenal manusia, maka siapa yang tidak mengenal manusia tidak pantas baginya kembali kepada manusia’.
Dalam Mukaddimah al-Ansab, al-Sam’ani berkata :
‘Dan ilmu silsilah nasab merupakan ni’mat yang besar dari Allah swt, yang karena hal itu Allah swt memberikan kemuliaan kepada hambanya. Karena dengan ilmu silsilah mempermudah untuk menyatukan nasab-nasab yang terpisah-pisah dalam bentuk kabilah-kabilah dan kelompok-kelompok, sehingga dengan ilmu silsilah nasab menjadi sebab yang memudahkan penyatuan tersebut’.

[1] Surat al-Hujurat ayat 13.
[2] Seggaf Ali Alkaf, Satu Kajian Mengenai Nasab Bani Alawi, hal. 41.
[3] Ibid, hal. 42.
[4] Ibid

GELAR DI HADRAMAUT


Gelar Imam, Syekh, Habib dan Sayid
Menurut Sayyid Muhammad Ahmad al-Syatri dalam bukunya Sirah al-Salaf Min Bani Alawi al-Husainiyyin, para salaf kaum ‘Alawi di Hadramaut dibagi menjadi empat tahap yang masing-masing tahap mempunyai gelar tersendiri. Gelar yang diberikan oleh masyarakat Hadramaut kepada tokoh-tokoh besar Alawiyin ialah :
IMAM (dari abad III H sampai abad VII H). Tahap ini ditandai perjuangan keras Ahmad al-Muhajir dan keluarganya untuk menghadapi kaum khariji. Menjelang akhir abad 12 keturunan Ahmad al-Muhajir tinggal beberapa orang saja. Pada tahap ini tokoh-tokohnya adalah Imam Ahmad al-Muhajir, Imam Ubaidillah, Imam Alwi bin Ubaidillah, Bashri, Jadid, Imam Salim bin Bashri.
SYAIKH (dari abad VII H sampai abad XI H). Tahapan ini dimulai dengan munculnya Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang ditandai dengan berkembangnya tasawuf, bidang perekonomian dan mulai berkembangnya jumlah keturunan al-Muhajir. Pada masa ini terdapat beberapa tokoh besar seperti Muhammad al-Faqih al-Muqaddam sendiri. Ia lahir, dibesarkan dan wafat di Tarim. Di kota Tarim, ia belajar bahasa Arab, teologi dan fikih sampai meraih kemampuan sebagai ulama besar ahli fiqih. Ia juga secara resmi masuk ke dunia tasawuf dan mencetuskan tarekat ‘Alawi. Sejak kecil ia menuntut ilmu dari berbagai guru, menghafal alquran dan banyak hadits serta mendalami ilmu fiqih. Ketika ia masih menuntut ilmu, Syekh Abu Madyan seorang tokoh sufi dari Maghrib mengutus Syekh Abdurahman al-Muq’ad untuk menemuinya. Utusan ini meninggal di Makkah sebelum sampai di Tarim, tetapi sempat menyampaikan pesan gurunya agar Syekh Abdullah al-Saleh melaksanakan tugas itu. Atas nama Syekh Abu Madyan, Abdullah membaiat dan mengenakan khiqah berupa sepotong baju sufi kepada al-Faqih al-Muqaddam. Walaupun menjadi orang sufi, ia terus menekuni ilmu fiqih. Ia berhasil memadukan ilmu fiqih dan tasawuf serta ilmu-ilmu lain yang dikajinya. Sejak itu, tasawuf dan kehidupan sufi banyak dianut dan disenangi di Hadramaut, terutama di kalangan ‘Alawi.
Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Ia memulai pendidikannya pada ayah dan kakeknya lalu meneruskan pendidikannya di Yaman dan Hijaz dan belajar pada ulama-ulama besar. Ia kemudian bermukim dan mengajar di Mekkah dan Madinah hingga digelari Imam al-Haramain dan Mujaddid abad ke 8 Hijriyah. Ketika Saudaranya Imam Ali bin Alwi meninggal dunia, tokoh-tokoh Hadramaut menyatakan bela sungkawa kepadanya sambil memintanya ke Hadramaut untuk menjadi da’i dan guru mereka. Ia memenuhi permintaan tersebut dan berhasil mencetak puluhan ulama besar.
Abdurahman al-Saqqaf bin Muhammad Maula al-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Ia digelari al-Saqqaf karena kedudukannya sebagai pengayom dan Ilmu serta tasawufnya yang tinggi. Pemula famili al-Saqqaf ini adalah ulama besar yang mencetak berpuluh ulama termasuk putranya sendiri Umar Muhdhar. Ia juga sangat terkenal karena kedermawanannya. Ia mendirikan sepuluh masjid serta memberikan harta wakaf untuk pembiayaannya. Ia memiliki banyak kebun kurma.
Umar Muhdhar bin Abdurahman al-Saqqaf adalah imam dalam ilmu dan tokoh dalam tasawuf. Ia terkenal karena kedermawanannya. Ia menjamin nafkah beberapa keluarga. Rumahnya tidak pernah sepi dari tamu. Ia mendirikan tiga buah masjid. Menurut Muhammad bin Abu Bakar al-Syilli, ia telah mencapai tingkat mujtahid mutlaq dalam ilmu syariat. Ia meninggal ketika sujud dalam shalat Dzuhur.
Abdullah al-Aidrus bin Abu Bakar al-Sakran bin Abdurahman al-Saqqaf. Hingga usia 10 tahun, ia dididik ayahnya dan setelah ayahnya wafat ia dididik pamannya Umar Muhdhar hingga usia 25 tahun. Ia ulama besar dalam syariat, tasawuf dan bahasa. Ia giat dalam menyebarkan ilmu dan dakwah serta amat tekun beribadah.
Ali bin Abu Bakar al-Sakran bin Abdurahman al-Saqqaf. Ia menulis sebuah wirid yang banyak dibaca orang hingga abad ke 21 ini. Ia terkenal dalam berbagai ilmu, khususnya tasawuf. Menurut Habib Abdullah al-Haddad, ia merupakan salaf ba’alawi terakhir yang harus ditaati dan diteladani.
HABIB (dari pertengahan abad XI sampai abad XIV). Tahap ini ditandai dengan mulai membanjirnya hijrah kaum ‘Alawi keluar Hadramaut. Dan di antara mereka ada yang mendirikan kerajaan atau kesultanan yang peninggalannya masih dapat disaksikan hingga kini, di antaranya kerajaan Alaydrus di Surrat (India), kesultanan al-Qadri di kepulauan Komoro dan Pontianak, al-Syahab di Siak dan Bafaqih di Filipina.
Tokoh utama ‘Alawi masa ini adalah Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad yang mempunyai daya pikir, daya ingat dan kemampuan menghafalnya yang luar biasa. Sejak kecil ia telah menghafal alquran. Ia berilmu tinggi dalam syariat, tasawuf dan bahasa arab. Banyak orang datang belajar kepadanya. Ia juga menulis beberapa buku.
Pada tahap ini juga terdapat Habib Abdurahman bin Abdullah Bilfaqih, Habib Muhsin bin Alwi al-Saqqaf, Habib Husain bin syaikh Abu Bakar bin Salim, Habib Hasan bin Soleh al-Bahar, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi.
SAYYID (mulai dari awal abad XIV ). Tahap ini ditandai kemunduran kecermelangan kaum ‘Alawi. Di antara para tokoh tahap ini ialah Imam Ali bin Muhammad al-Habsyi, Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Allamah Abu Bakar bin Abdurahman Syahab, Habib Muhammad bin Thahir al-Haddad, Habib Husain bin Hamid al-Muhdhar.
Sejarawan Hadramaut Muhammad Bamuthrif mengatakan bahwa Alawiyin atau qabilah Ba’alawi dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling banyak hijrah ke Asia dan Afrika. Qabilah Alawiyin di Hadramaut dianggap orang Yaman karena mereka tidak berkumpul kecuali di Yaman dan sebelumnya tidak terkenal di luar Yaman.
Jauh sebelum itu, yaitu pada abad-abad pertama hijriah julukan Alawi digunakan oleh setiap orang yang bernasab kepada Imam Ali bin Abi Thalib, baik nasab atau keturunan dalam arti yang sesungguhnya maupun dalam arti persahabatan akrab. Kemudian sebutan itu (Alawi) hanya khusus berlaku bagi anak cucu keturunan Imam al-Hasan dan Imam al-Husein. Dalam perjalanan waktu berabad-abad akhirnya sebutan Alawi hanya berlaku bagi anak cucu keturunan Imam Alwi bin Ubaidillah. Alwi adalah anak pertama dari cucu-cucu Imam Ahmad bin Isa yang lahir di Hadramaut. Keturunan Ahmad bin Isa yang menetap di Hadramaut ini dinamakan Alawiyin diambil dari nama cucu beliau Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa yang dimakamkan di kota Sumul.

Serupa tapi tak sama
Nama-nama qabilah ini serupa dengan nama-nama qabilah Alawiyin, tetapi qabilah tersebut bukan termasuk Alawiyin :
¡  Al-Bahar dari qabilah Muhammad bin Ghilan di Nahiyah Yaman
¡  Ba-jindan dari suatu qabilah di Hadramaut.
¡  Al-Junaid terdapat pula yang berasal dari Bani A’yan
¡  Al-Habsyi dari Bani Malik, Qabilah Ghomid   di Bahah
¡  Al-Haddad dari famili Abul Khoil
¡  Al-Qadri dari masyayekh di Hadramaut.
¡  Basuroh dari qabilah Syaiban di Maqad, Dua’an Hadramaut
¡  Al-Shofi dari Bani Kindah
¡  Ba’aqil dari suatu qabilah di Aden dan Mukala
¡  Al-Atasi di Siria
¡  Ba’abud dari famili Al-Amudi
¡  Bafaqih dari famili Bin Afif di Hijrain Hadramaut dan Bafaqih dari keluarga Al-Amudi di Wadi Isir Du’an Hadramaut
¡  Bilfaqih dari suatu qabilah di Shibam Hadramaut
¡  Bafaraj dari suatu qabilah di Mukala Yaman
¡  Al-Kaf  qabilah yang berasal dari Mekkah al-Mukarromah.
¡  Mugebel dari qabilah Ahlan di Sa’dah Yaman
¡  Al-Musawa dari qabilah Bani Nahat
¡  Al-Mutohar dari famili Al-Amudi
¡  Bin Yahya yang terdapat di Du’an Hadramaut

Sejarah Nama Azmat Khan


ASAL NAMA AZMATKHAN
Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India.
Setelah Sayyid Abdul Malik menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit.
Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan Nabi, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang.
Adapun nasab Sayyid Abdul Malik adalah sebagai berikut :
Abdul Malik
bin
Alawi (Ammil Faqih)
bin
Muhammd Shahib Mirbath
bin
Ali Khali' Qasam
bin
Alawi
bin
Muhammad
bin
Alawi
(Asal usul marga Ba'alawi atau Al-Alawi)
bin
Abdullah / Ubaidillah
bin
Ahmad Al-Muhajir Ilallah
bin
Isa
bin
Muhammad
bin
Ali Al-'Uraidhi
bin
Ja'far Ash-Shadiq
bin
Muhammad Al-Baqir
bin
Ali Zainal Abidin
bin
Husain
bin
Ali bin Abi Thalib
dan Fathimah binti Rasulillah SAW.

Sayyid Abdul Malik juga dikenal dengan gelar "Al-Muhajir Ilallah", karena beliau hijrah dari Hadhramaut ke India untuk berda'wah, sebagaimana kakek beliau, Sayyid Ahmad bin Isa, digelari seperti itu karena beliau hijrah dari Iraq ke Hadhramaut untuk berdakwah.
Berkatalah H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini dalam bukunya "Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah".
"Sayyid Abdul Malik Bin Alwi lahir di Kota Qasam, sebuah kota di Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Beliau meninggalkan Hadhramaut pergi ke India bersama jama'ah para Sayyid dari kaum Alawiyyin. Di India, beliau bermukim di Kota Nashr Abad. Beliau mempunyai beberapa orang anak laki-laki dan perempuan, di antaranya ialah Sayyid Amir Khan abdullah bin Sayyid Abdul Malik, yang lahir di Kota Nashr Abad, ada juga yang mengatakan bahwa beliau lahir di sebuah desa di dekat Kota Nashr Abad. Beliau adalah putra kedua dari Sayyid Abdul Malik".
Nama putra Sayyid abdul Malik adalah "Abdullah", penulisan "Amir Khan" sebelum "Abdullah" adalah penyebutan gelar yang kurang tepat, adapun yang benar adalah Al-Amir Abdullah Azmat Khan. Al-Amir adalah gelar utuk pejabat wilayah. Sedangkan, Azmat Khan adalah marga beliau mengikuti gelar Ayahanda.
Sebagian orang ada yang menulis "Abdullah Khan", mungkin ia hanya ingat "Khan" nya saja, karena marga "khan" (tanpa Azmat) memang populer sebagai marga bangsawan di kalangan orang India dan Pakistan. Maka penulisan "Abdullah Khan" itu kurang tepat, karena "Khan" adalah marga bangsawan Pakistan asli, bukan marga beliau yang merupakan pecahan dari marga Ba'alawi, atau Al-Alawi Al-Husaini.
Ada yang berkata bahwa di India, mereka juga menulis Al-Khan, namun yang tertulis dalam buku nasab Alawiyyin adalah Azmat Khan, bukan Al-Khan, sehingga penulisan Al-Khan akan menyulitkan pelacakan di buku nasab.
Sayyid Abdullah Azmat Khan pernah menjabat sebagai Pejabat Diplomasi Kerajaan India, beliau pun memanfaatkan jabatan itu untuk menyebarkan Islam ke berbagai negeri. Sejarah mencatat bagaimana beliau bersaing dengan Marcopolo di daratan Cina, persaingan itu tidak lain adalah persaingan di dalam memperkenalkan sebuah budaya.
Sayyid Abdullah memperkenalkan budaya Islam dan Marcopolo memperkenalkan budaya barat. Sampai saat ini, sejarah tertua yang kami dapat tentang penyebaran Islam di Cina adalah cerita Sayyid Abdullah ini. maka, bisa jadi beliau adalah penyebar Islam pertama di Cina, sebagaimana beberapa anggota Wali Songo yang masih cucu-cucu beliau adalah orang pertama yang berda'wah di tanah Jawa.
H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini melanjutkan :
"Ia (Sayyid Abdullah) mempunyai anak lelaki bernama Amir Al-Mu'azhzham Syah Maulana Ahmad".
Nama beliau adalah Ahmad, adapun "Al-Amir Al-Mu'azhzham" adalah gelar berbahasa Arab untuk pejabat yang di agungkan, sedangkan "Syah" adalah gelar berbahasa Urdu untuk seorang raja, bangsawan dan pemimpin, sementara "Maulana" adalah gelar yang dipakai oleh muslimin India untuk seorang Ulama Besar.
Sayyid Ahmad juga dikenal dengan gelar "Syah Jalaluddin".
H.M.H. Al-Hamid Al-Husaini melanjutkan :
"Maulana Ahmad Syah Mu'azhzham adalah seorang besar, Ia di utus oleh Maharaja India ke Asadabad dan kepada Raja Sind untuk pertukaran informasi, kemudian selama kurun waktu tertentu ia di angkat sebagai Wazir (Menteri). Ia mempunyai banyak anak lelaki. Sebagian dari mereka pergi meninggalkan India, berangkat mengembara. Ada yang ke negeri Cina, kamboja, Siam (Thailand) dan ada pula yang pergi ke negeri Anam dari Mongolia Dalam (Negeri Mongolia yang termasuk di dalam wilayah kekuasaan Cina). Mereka lari (?) meninggalkan India untuk menghindari kesewenang-wenangan dan kezhaliman Maharaja India pada waktu terjadi fitnah pada akhir abad ke-7 Hijriah.
Di antara mereka itu yang pertama tiba di Kamboja ialah Sayyid Jamaluddin Al-Husain Amir Syahansyah bin Sayyid Ahmad. Ia pergi meninggalkan India tiga tahun setelah ayahnya wafat. Kepergiannya di sertai oleh tiga orang saudaranya, yaitu Syarif Qamaruddin. Konon, dialah yang bergelar "Tajul-Muluk". Yang kedua ialah Sayyid Majiduddin dan yang ketiga ialah Sayyid Tsana'uddin."
Sayyid Jamaluddin Al-Husain oleh sebagian orang Jawa di sebut Syekh Jumadil Kubro. Yang pasti nama beliau adalah Husain, sedangkan Jamaluddin adalah gelar atau nama tambahan, sehingga nama beliau juga di tulis "Husain Jamaluddin". Adapun "Syahan Syah", artinya adalah Raja Diraja. Namun kami yakin bahwa gelar Syahan Syah itu hanyalah pemberian orang yang beliau sendiri tidak tahu, karena Rasulullah SAW melarang pemberian Syahan Syah pada selain Allah.
Sayyid Husain juga memiliki saudara bernama Sulaiman, beliau mendirikan sebuah Kesultanan di Thailand. Beliau di kenal dengan sebutan Sultan Sulaiman Al-Baghdadi, barangkali beliau pernah tinggal di lama di Baghdad. Nah, Sayyid Husain dan Sayyid Sulaiman inilah nenek motyang daripada keluarga Azmat Khan Indonesia, setidaknya yang kami temukan sampai saat ini.
Sayyid Husain memiliki tujuh orang putra, sebagai berikut :
[1] Sayyid Ibrahim, diketahui memiliki tiga orang putra, antara lain :
1.1. Maulana Ishaq (Ayah Sunan Giri). Keturunannya mulai terdata.
1.2. Sayyid Fadhal Ali Al-Murtadha (Raden Santri). Keturunannya mulai terdata.
1.3. Sayyid Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel). Keturunannya mulai terdata.
[2] Sayyid Barakat, diketahui memiliki empat orang putra, antara lain :
2.1. Sayyid Abdurrahman Ar-Rumi. Belum ada informasi bahwa beliau memiliki keturunan.
2.2. Sayyid Ahmad Syah. Belum ada informasi bahwa beliau memiliki keturunan.
2.3. Maulana Malik Ibrahim. Belum ada informasi bahwa beliau memiliki keturunan.
2.4. Sayyid Abdul Ghafur, diketahui memiliki satu putera, yakni :
2.4.1. Sayyid Ibrahim. Diketahui memiliki dua putera, yakni :
2.4.1.1. Fathullah (Falatehan). Keturunannya mulai terdata.
2.4.1.2. Nyai Mas Gandasari (isteri Sunan Gunung Jati).
[3] Sayyid Ali Nurul Alam, memiliki dua orang putera, antara lain :
3.1. Sayyid Abdullah, memiliki dua orang putra antara lain:
3.1.1. Syarif Nurullah. Keturunannya mulai terdata.
3.1.2. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Keturunannya mulai terdata.
3.2. Sayyid Utsman Haji (sunan Ngudung), menikah dengan cucu Sunan Ampel dan berputera Ja'far Ash-Shadiq (Sunan Kudus). Keturunannya mulai terdata.
3.3. Sayyid Haji Utsman (sunan Manyuran). Keturunannya mulai terdata.
[4] Sayyid Fadhal (Sunan Lembayung). Kami belum mendapatkan riwayat beliau dan belum ada informasi bahwa beliau memiliki keturunan.
[5] Sayyid Abdul Malik. Kami belum mendapatkan riwayat beliau dan belum ada informasi bahwa beliau memiliki keturunan.
[6] Pangeran Pebahar. Kami belum mendapatkan nama Arab dan riwayat beliau. Beliau adalah kakek dari Tuan Faqih Jalaluddin, Ulama Palembang pada masa Sultan Mahmud Badaruddin. Diketahui memiliki keturunan.
[7] Abdillah. Yang ketujuh belum kami dapatkan nama dan riwayatnya dan belum ada informasi bahwa beliau memiliki keturunan.

Adapun Sayyid Sulaiman Al-Baghdadi memiliki tiga orang putera dan seorang puteri yang semuanya berdakwah dan meninggal di Cirebon Jawa Barat, antara lain :
1. Syekh Datuk Kahfi. Diketahui memiliki keturunan.
2. Sayyid Abdurrahman (Pangeran Panjunan). Keturunannya mulai terdata.
3. Sayyid Aburrahim (Pangeran Kejaksan). Diketahui memiliki keturunan.
4. Syarifah Ratu Baghdad, menikah dengan Sunan Gunung Jati.

Asal Usul Keluarga

Ketika Al-Qasim, putra Rasulullah SAW, wafat dalam usia masih kecil, terdengarlah berita duka itu oleh beberapa tokoh musyrikin, diantara mereka adalah Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il. Mereka kegirangan dengan berita itu, mereka mengejek Rasulullah SAW dengan mengatakan bahwa beliau tidak lagi memiliki anak laki-laki yang dapat melanjutkan generasi keluarga beliau, sementara orang Arab pada masa itu merasa bangga bila memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan garis keturunan mereka. Untuk menjawab ejekan Abu Lahab dan ‘Ash bin Wa’il itu, Allah menurunkan surat Al-Kautsar yang ayat pertamanya berbunyi:
Sesungguhnya Kami memberimu karunia yang agung.
Al-Kautsar artinya karunia yang agung, dan karunia yang dimaksud dalam ayat itu adalah bahwa Allah akan memberi banyak keturunan pada Rasulullah SAW melalui putri beliau, Fatimah Az-Zahra’. Sementara Abu lahab dan ‘Ash bin Wa’il dinyatakan oleh ayat terakhir surat Al-Kautsar, bahwa justru merekalah yang tidak akan memiliki keturunan, yaitu ayat..
“Sesungguhnya orang yang mengejekmu itulah yang tidak sempurna (putus keturunan).”
Benarlah apa yang difirmankan oleh Allah, sampai kini keturunan Rasulullah SAW, melalui Al-Hasan dan Al-Husain putra Fatimah Az-Zahra’, benar-benar memenuhi belahan bumi, baik mereka yang dikenal sebagai cucu Rasulullah oleh masyarakat, maupun yang tidak.
Sekedar gambaran, IKAZHI memiliki banyak data tentang silsilah Ulama-ulama Pesantren yang dikenal sebagai “Kiai” Indonesia, khususnya Jawa (termasuk Madura), dimana kebanyakan dari mereka memiliki garis nasab pada Rasulullah SAW, seperti Kiai-kiai keturunan keluarga Azmatkhan, Basyaiban dan sebagainya. Kemudian, di berbagai daerah, kaum santri sangat didominan oleh keluarga-keluarga yang bernasab sama dengan Kiai-kiai itu, bedanya hanya karena beberapa generasi sebelum mereka tidak berprestasi seperti leluhur “keluarga Kiai”, sehingga setelah selisih beberapa generasi, merekapun tidak dikenal sebagai “keluarga Kiai”, tapi hanya sebagai “keluarga santri”.
Di Madura ada semacam “pepatah” yang mengatakan bahwa kalau ada santri yang sampai bisa membaca “kitab kuning” maka pasti dia punya nasab pada “Bhujuk”. Bhujuk adalah julukan buat Ulama-ulama zaman dulu yang membabat alas dan berda’wah di Madura. Semua Bhujuk Madura memiliki nasab pada Rasulullah SAW. Kebanyakan mereka keturunan Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus. “Pepatah” itu memang hanya dibicarakan di kalangan “orang awam”, namun kenyataan memang sangat mendukung, karena hampir semua masyarakat santri di Madura adalah keturunan “Bhujuk”, sehingga tidak mustahil apabila di Madura orang yang memiliki “darah Rasulullah” lebih banyak daripada yang tidak. Kami banyak mendapati perkampungan yang mayoritas penduduknya masih satu rumpun dari keturunan seorang Bhujuk yang bernasab pada semisal Sunan Ampel dan sebagainya.
Mungkin hal itu akan menimbulkan pertanyaan “mengapa bisa demikian?”. Maka jawabannya adalah bahwa keluarga Bhujuk dan Kiai Madura dari zaman dulu memiliki anak lebih banyak daripada orang biasa, apalagi hampir semua mereka dari zaman dulu -bahkan banyak juga yang sampai sekarang- memiliki istri lebih dari satu, maka tentu saja setelah puluhan generasi maka keturunan Bhujuk-bhujuk itu lebih mendominan pulau Madura.
Kalau ada yang berkata bahwa tidak semua Kiai keturunan “Sunan” itu bergaris laki-laki, bahkan kebanyakan mereka (?) adalah keturunan “Sunan” dari perempuan, maka pertanyaan itu justru dijawab dengan pertanyaan “kenapa kalau bergaris perempuan?”. Islam dan “budaya berpendidikan” telah “sepakat” untuk membenarkan “status keturunan” dari garis perempuan. Paham "garis perempuan putus nasab" berakibat pada penolakan terhadap keturunan Rasulullah sebagai Ahlul-bayt. Ada orang awam yang berkata bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki keturunan dari anak laki-laki, Hasan-Husain adalah putra Fathimah yang berarti putus nasab dari Rasulullah SAW. Paham ini sebenarnya adalah warisan bangsa Arab jahiliyah yang pernah diabadikan dalam syair mereka:
“Anak-anak kami adalah keturunan
dari anak-anak laki-laki kami.
Adapun anak-anak perempuan kami,
keturunan mereka adalah anak-anak orang lain.”
Cucu dari anak perempuan itu hanya keluar dari deretan daftar ahli waris, dalam istilah ilmu “Fara’idh” disebut “mahjub” (terhalang untuk mendapat warisan). Namun dalam deretan “dzurriyyah” (keturunan), cucu dari anak perempuan tidak beda dengan cucu dari anak laki-laki; mereka sama-sama cucu yang akan dipanggil “anakku” oleh kakek yang sama. Apabila kakek mereka adalah orang shaleh maka mereka sama-sama masuk dalam daftar keturunan yang akan mendapat berkah dan syafa’at leluhurnya, sebagaimana firman Allah:
“Dan orang-orang yang beriman dan anak-cucu mereka mengikuti mereka dengan beriman, maka Kami gabungkan anak cucu mereka itu dengan mereka .. “ (Q.S. Ath-Thur : 21)
Jadi, madzhab mayoritas para Kiai adalah bahwa cucu dari garis perempuan dan dari garis laki-laki itu sama-sama cucu, kalau kakek mereka ulama shaleh maka -insyaallah- mereka sama-sama akan mendapat berkah. Termasuk anak cucu Rasulullah SAW, baik yang garis silsilahnya laki-laki semua hingga ke Fathimah binti Rasulillah SAW, maupun yang melalui garis perempuan.
Madzhab ini telah lama dianut oleh Kiai-kiai keturunan Walisongo, terbukti dengan banyaknya kiai-kiai yang menulis nasab mereka yang bersambung pada Walisongo melalui garis perempuan. Terbukti pula dengan yang dikenal oleh Kiai-kiai bahwa Syekh Kholil adalah cucu Sunan Gunung Jati, padahal nasab Syekh Kholil pada Sunan Gunung Jati melalui garis perempuan, sedangkan dari garis laki-laki bernasab pada Sunan Kudus.
Kembali ke bab kita, bahwa di Madura banyak terdapat keluarga-keluarga yang memiliki nasab pada Rasulullah, maka seperti di Madura, begitu pula yang terjadi di berbagai wilayah masyarakat Pesantren lainnya di Jawa. Maka bayangkan saja, betapa keturunan Rasulullah SAW telah memenuhi pulau Jawa, belum lagi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain. Ditambah dengan “jamaah habaib” yang memang sudah dikenal dengan “status menonjol” sebagai keturunan Rasulullah SAW.
Ini yang terjadi di Indonesia, dan demikian pula di negeri-negeri non Arab yang lain, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Filipina, India, Pakistan, Afrika dan sebagainya. Banyak dari mereka yang sudah membaur dengan penduduk setempat sehingga mereka tidak lagi dikenal sebagai “Habib”, “Sayyid” atau julukan-julukan lainnya. Dalam kitabnya, “’Allimu Auladakum Mahabbata Aalin Nabi”, Syekh Muhammad Abduh Yamani mengatakan bahwa di Afrika banyak terdapat orang-orang kulit hitam yang ternayata memegang sisilsilah pada Rasulullah. Hal itu dikarenakan leluhur mereka berbaur dengan orang kulit hitam, bergaul dan menikah dalam rangka menjalin hubungan sebagai jembatan da’wah. Kenyataan ini menyimpulkan bahwa masih banyak keturunan Rasulullah SAW yang tidak terdata dan tidak dikenal. Itu adalah gambaran jumlah keturunan Rasulullah SAW yang keluar dari tanah Arab dan tidak lagi dikenal sebagai orang Arab. Jumlah yang amat besar ditambah dengan jumlah keturunan Rasulullah SAW yang di Arab.
Maka kenyataan ini membenarkan apa yang dinyatakan oleh Allah SWT dalam surat Al-Kautsar, bahwa Rasulullah SAW akan diberi karunia agung dengan memiliki keturunan yang amat banyak. Sehingga kalau saja beliau dan orang-orang sezaman beliau masih hidup saat ini, maka beliau akan memiliki keluarga terbesar yang tak tertandingi oleh yang lain. Bisa jadi, bila kita mengumpulkan semua keturunan Rasulullah SAW sejak zaman beliau hingga kini, kemudian kita mengumpulkan seratus orang dari sahabat-sahabat beliau beserta keturunan mereka hingga kini, maka jumlah keturunan beliau akan mengalahkan keturunan seratus orang sahabat beliau.

Antara Robithoh Azmatkhan Dan Robithoh Alawiyah

Robithoh Alawiyah adalah ikatan keluarga Ahlul-bayt keturunan Al-Hasan dan Al-Husain putra Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Rasulillah SAW. Robithoh Alawiyah sudah ada sejak masa khilafah Abbasiah, saat itu dikenal dengan istilah "Niqobah" dan penanggung-jawabnya disebut "Naqib". Sayyid Isa (ayah Sayyid Ahmad Al-Muhajir) dan ayah beliau (Sayyid Muhammad bin Ali Al-'Uradhi) termasuk yang bertanggung jawab atas Niqobah, makanya masing-masing mereka dijuluki An-Naqib.
Awalnyanya Robithoh Alawiyah merupakan lembaga resmi dibawah manajemen pemerintah karena berkaitan dengan masalah kuhumusul-khumus. Kini Robithoh Alawiyah telah menjadi ikatan keluarga yang mandiri dan lebih banyak bergerak dalam bidang koordinasi antar keluarga Alawiyyin. Di tiap negara dimana disitu terdapat Alawiyyin, disitu dibentuk perkumpulan Alawiyyin untuk menjalin silaturrahim, termasuk di Indonesia yang berpusat di Jakarta.
Sebagian orang menganggap bahwa sebagian perkumpulan Alawiyin ada yang saling tidak mengakui keabsahan nasab kelompok lain, baik antar kelompok dalam satu negara maupun lain negara. Maka perlu dipahami bahwa yang terjadi sebenarnya bukan tidak mengakui, melainkan tidak mengenal sehingga tidak bisa mengomentari. Hal ini sangatlah wajar, karena Alawiyyin berpencar ke penjuru dunia sejak belasan abad yang lalu.
Kalaupun memang benar ada kelompok yang menolak kelompok lain, seperti yang terjadi pada sebagian kelompok Alawiyyin Yordania yang tidak mengakui keabsahan nasab keluarga Ba'lawi (Hadhramaut), maka hal ini hanyalah suatu ketidakdewasaan yang terjadi pada sebuah kelompok kecil dan bukan mewakili cara berfikir ahlul-bayt pada umumnya. Apalagi masalah pengakuan nasab itu sudah dibahas oleh ulama fiqih dengan gamblang, bahwa ada aturan didalam mengaku dan menolak sebuah nasab.
Berkaitan dengan Robithoh Alawiyah, Robithoh Azmatkhan tidak termasuk dalam manajemen Robitoh Alawiyah, melainkan hanya membantu Robithoh Alawiyah didalam pendataan, karena sebenarnya pendataan keluarga Azmatkhan juga tugas Robithoh Alawiyah.
Dan didalam pendataan dan pengesahan nasab, Robithoh Azmatkhan memiliki standar yang berbeda dengan Robithoh Alawiyah, standar Robithoh Azmatkhan memiliki tiga istilah tingkatan.
1. Shahih : Silsilah garis laki-laki yang cukup untuk memenuhi standar Robithoh Alawiyah. Yaitu silsilah para Sultan yang diakui sejarah, silsilah keluarga yang dikenal keluarga kesultanan dan silsilah keluarga yang tertulis rapi secara turun temurun tanpa adanya riwayat berbeda. Robithoh Azmatkhan mengesahkan pemilik "Silsilah Shahih" untuk menggunakan nama belakang "Azmatkhan" dan dapat merekomendasikannya kepada Robithoh Alawiyah.
2. Hasan : Silsilah garis laki-laki yang tertulis rapi secara turun temurun, tapi ada beberapa riwayat berbeda yang tidak keluar dari jalur Azmatkhan. Robithoh Azmatkhan mengesahkan pemilik "Silsilah Hasan" untuk menggunakan nama belakang "Azmatkhan", namun tidak dapat merekomendasikannya kepada "Robithoh Alawiyah" sampai mendapatakan argumen yang mengukuhkan salah satu riwayat.
3. Khu'ulah : Silsilah garis perempuan. Dalam standar keabsahan silsilah, khu'ulah sama dengan "Shahih" dan "Hasan", tergantung jenis riwayatnya. Bedanya, pemililik "Silsilah Khu'ulah" diharuskan mencantumkan kalimat "khu'ulah" apabila mau menggunakan nama belakang "Azmatkhan" dan dalam penulisan cukup ditulis "Kh." sehingga menjadi "Azmatkhan Kh.", hal itu untuk tidak mengacau istilah pernasaban yang berlaku dalam budaya Arab. Robithoh Azmatkhan tidak dapat merekomendasikan "Silsilah Hasan" kepada "Robithoh Alawiyah".
Yang dimaksud merekomendasikan pada Robithoh Alawiyah adalah mengusahakan untuk mendapatkan pengesahan resmi sebagai ahlul-bayt yang mendapatkaan hak semisal wakaf Alawiyyin dan khumusul-khumus.
Dalam hal pengakuan sebagai keluarga, Robithoh Azmatkhan sama sekali tidak membedakan antara pemilik Slilsilah Shahih, Silsilah Hasan dan Silsilah Khu'ulah, semua berhak mendapat kartu anggota dengan ketentuan yang ditetapkan dan silsilahnya akan ditulis dalam kartu.
Selebihnya, untuk sementara Robithoh Azmatkhan menyarankan agar anggotanya tidak meminta apalagi menuntut pengesahan dari Robithoh Alawiyah. Apabila nasabnya benar maka kelak di akhirat Rasulullah SAW akan mengakuinya sebagai cucu, tidak kurang dari ahlil-bayt yang telah disahkan oleh Robithoh Alawiyah.

Budaya Toleransi : Tokoh-Tokoh yang menjunjung Tinggi Toleransi

Sejarah mencatat betapa leluahur keluarga Azmatkhan yang tergabung dalam Walisongo sangat toleransi dan amat pandai beradaptasi. Seorang berbangsa Arab dapat duduk bersanding dengan orang-orang jawa, baik bangsawan maupun rakyat jelata Jawa, sementara orang-orang Jawa sendiri justru terkotak-kotak oleh ras yang selama itu mereka pahami. Kalau bukan karena karomah “pandai beradaptasi” serta “pandai menempatkan diri”, tentu mereka tidak akan diterima oleh kaum bangsawan ketika mereka diketahui dekat dengan kaum jelata, dan tentu kaum jelata akan menuhankan mereka karena mereka dapat menaklukkan para penguasa.
Toleransi dan adaptasi terhadap budaya dan lingkungan merupakan salah satu ajaran penting yang ditanamkan oleh leluhur keluarga Azmatkhan, karena mereka tahu bahwa masyarakat Jawa dan sekitarnya memiliki banyak ragam budaya dan kepercayaan, dan tujuan daripada mengedepankan adaptasi adalah untuk mendapatkan simpati. Tidak semua yang benar itu yang terbaik, suatu permasalahan bisa saja memiliki point-point sikap yang dapat dibenarkan, namun dari point-point itu terkadang ada satu saja yang sebaiknya atau bahkan seharusnya dipilih, dengan pertimbangan lebih memungkinkan orang lain bersimpati.
Toleransi dan adaptasi, itulah peninggalan penting ajaran leluhur keluarga Azmatkhan. Kini hal itu telah pudar dari segolongan muslimin yang mengaku penerus perjuangan jihad Walisongo, sehingga ke-kurang toleransi-an itu banyak menimbulkan keributan yang ujungnya justru menempatkan Islam pada target hujatan orang-orang non muslim. Hal itu bisa kita lihat dengan maraknya kasus teror yang kemudian ditemukan seorang muslim ‘fanatik’ sebagai pelakunya, maraknya keributan antar tokoh muslim yang dapat memberi kesan ke-tidak dewasa-an. Maka hendaknya kita telaah kembali sejarah keberhasilan Ulama Salaf Indonesia (tokoh-tokoh Walisongo), dimana kita akan menemukan mereka sebagai tokoh anti fanatisme, tokoh yang toleran dan menjunjung tinggi sikap beradaptasi.

Anti Fanatisme Golongan

Sayyid Abdul Malik mendapatkan gelar Azmatkhan setelah beliau hijrah ke India dalam rangka berda’wah, dan sejak itu keturunan beliau menggunakan “Azmatkhan” sebagai marga, namun mereka tidak suka dengan sikap fanatik masyarakat yang hanya mengedepankan garis keturunan, sehingga merekapun menanggalkan marga ke-sayyid-an agar mereka tidak dihormati lebih karena nasab mereka, mereka sengaja tidak memakai marga “Azmatkhan” atau “Ba’alawi” didalam memenyebut nama mereka, yang di India berbaur dengan orang-orang India bisa, demikian pula yang kemudian keluar dari India.
Maka satu hal yang ditekankan IKAZHI dengan menyuguhkan masalah ini, yaitu agar keluarga Azmatkhan, khususnya yang keluarga Kiai, lebih mengedepankan prestasi daripada trah.
Berangkat dari fanatik terhadap sebuah keluarga, fanatik terhadap sebuah golongan atau madzhab juga akan mendapatkan tempat di hati orang yang kurang wawasan. Fanatik terhadap pecahan golongan atau faham adalah merupakan suatu aib bagi golongan atau faham pada umumnya. Tidak jarang kita menangkap seorang pelaku teror dan si teroris dengan tenangnya menyatakan merasa tidak bersalah. Kefanatikan terhadap sebuah faham membuatnya enggan kompromi dengan faham lain.
Tidak jarang kita menemukan dua tokoh bertikai dan para pendukung mereka berkelahi, kemudian masing-masing menyatakan sama sekali tidak bersalah dengan ulah kekanak-kanakan, itu, karena kefanatikan terhadap seorang tokoh membuat mereka enggan menyimak penjelasan tokoh lain. Nah, ketika mereka yang fanatik dan “berulah” itu membawa nama golongan yang lebih besar, maka tentu saja banyak anggota “golongan yang lebih besar” itu menjadi dirugikan, karena orang diluar golongan mereka akan punya alasan untuk menilai golongan itu sebagai golongan yang tidak simpatik.
Leluhur keluarga Azmatkhan sangat menjunjung tinggi sikap toleransi. Kita semua tahu bahwa pendirian Kesultanan Islam Demak adalah atas prakarsa kelompok Wali Songo yang terdiri dari keluarga Azmatkhan dan waktu itu dipimpin oleh Sunan Ampel. Ketika pendirian Kesultanan Demak dimulai maka Sunan Ampel menunjuk murid beliau, Abdul Fattah (Raden Patah), untuk menduduki kursi kesultanan.
Semula Raden Patah menolak karena merasa ada yang lebih layak untuk menjadi Sultan, beliau memohon agar Sunan Ampel saja yang menjabat sebagai Sultan, namun Sunan Ampel tidak mau dan Raden Patah pun mau setelah Sunan Ampel menyatakan bahwa penunjukan itu adalah sebagai perintah seorang guru pada muridnya.
Dari kejadian itu kita dapat menangkap cara berfikir Sunan Ampel, bahwa beliau sangat toleransi dengan budaya Jawa, beliau tahu kalau semua bangsa memiliki kelompok yang di-bangsawan-kan. Maka Sunan Ampel sama sekali tidak melupakan hal itu walaupun beliau sendiri dan Wali-wali lain yang masih putra-putra dan keponakan beliau- adalah bangsawan-bangsawan Quraisy keturunan Rasulullah SAW, bahkan beliau sendiri adalah menantu keluarga Kerajaan Majapahit.
Sunan Ampel memilih Raden Patah karena beliau adalah orang ‘alim yang memiliki “darah biru” tertinggi menurut bangsa Majapahit, karena beliau adalah putra Prabu Brawijaya V. Sunan Ampel sama sekali tidak merubah tatanan budaya masyarakat Jawa dalam pengangkatan seorang Sultan pemimpim kaum muslimin.
Penyerbuan Demak terhadap Majapahit
Sebagian orang mengira bahwa dalam pertempuran antara Demak dan Majapahit adalah pertempuran antara anak (Raden Patah) dan orang tua (Brawijaya V). Adapun yang benar adalah cerita sebagai berikut.
Pada awal-awal berdirinya Kesultanan Demak, Raden Patah mengajukan pendapat pada Sunan Ampel untuk menaklukkan Majapahit, namun Sunan Ampel menolak dan menjelaskan bahwa bukan demikian cara menyebarkan Islam, tidak ada paksaan dalam Islam. Selama kaum muslimin tidak diserang maka Islam tidak membenarkan penyerangan terhadap non muslim.
Memang benar kata Sunan Ampel, menyerang adalah cara yang pernah dilakukan oleh Dinasti Umawi (Khalifa Mu’awiyah dan penerusnyanya). Mu’awiyah dan anaknya, Yazid, banyak merubah cara-cara Islam, mulai dari sistem Khilafah yang mereka rubah menjadi sistem Kerajaan, hingga cara menyebarkan Islam dengan halus yang mereka rubah menjadi dengan peperangan. Mereka memang berhasil menaklukkan banyak bangsa, namun cara itu sebenarnya tidak berhasil dengan baik, karena bangsa-bangsa yang takluk karena diserang tidak akan memeluk Islam dengan baik, terbukti banyak negeri taklukan Dinasti Umawi yang kemudian murtad atau kembali menjadi bangsa kafir.
Berkatalah seorang sejarahwan Jerman: “Seandainya Mu’awiyah tidak merubah cara Muhammad didalam berda’wah, seandainya ia tidak menyebarkan Islam melalui peperangan, niscaya hari ini penduduk Jerman telah menjadi bangsa muslim.
Kembali pada Kesultanan Demak. Setelah Sunan Ampel menolak untuk menaklukkan Majapahit maka Raden Patah tidak lagi berpikir untuk menyerang Majapahit. Namun setelah Sunan Ampel Meninggal, terjadilah penyerangan dari Kerajaan Kediri terhadap Kerajaan Majapahit, Majapahit pun jatuh ke tangan Kediri, Brawijaya V lari entah kemana. Maka seorang Panglima Kediri menduduki kursi singgasana Majapahit dan iapun menggunakan gelar “Brawijaya VI”. Kemudian Brawijara VI mengadakan perjanjian bersekutu dengan pasukan Portugis yang waktu itu telah menguasai Samudera Pasai, dengan maksud untuk menyusun kekuatan untuk menghadapi Demak.
Mengetahui bahwa “Majapahit Baru” telah bersekutu dengan bangsa asing, maka Sunan Giri, penasehat Raden Patah setelah Sunan Ampel, mengisyaratkan perang menyerang “Majapahit Baru”. Raden patah pun bersama pasukan menyerang dan menaklukkan “Majapahit Baru”, beliaupun merampas mahkota dan pusaka-pusaka yang lain milik Keraton Majapajit.
Maka dalam penyerangan Demak itu kita dapat menyimpulkan bahwa Sunan Giri mengisyaratkan perang melawan “Majapahit Baru” bukan dalam rangka merampas kekuasaan, melainkan untuk menyelamatkan bangsa Jawa pada umumnya, karena perjanjian “Majapahit Baru” dengan Portugis berarti menjual bangsa sendiri terhadap bangsa asing. Kemudian mengenai mahkota dan pusaka-pusaka Majapahit yang diambil Raden Patah adalah milik ayah beliau sendiri, justru dengan mengambil semua itu berarti beliau telah menyelamatkan harga diri ayah beliau, Brawijaya V”, karena berarti Mahkota dan pusaka-pusaka tidak jatuh ke tangan musuh, meliankan jatuh ke tangan anak sendiri, apalagi sebagian riwayat mengatakan bahwa Raden Patah sempat diangkat sebagai Putra Mahkota oleh Brawijaya V, maka berarti mahkota itu benar-benar jatuh pada orang yang berhak. Dari itu, sungguh tidak benar apa yang dikatakan sebagian orang bahwa Raden patah menyerah ayahnya sendiri, itu hanya salah paham saja.

PERINSIP DAN DASAR PENDIRIAN ROBITHOH AZMATKHAN

Mengingat keturunan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan banyak tersebar di Indonesia melalui sebagian besar anggota Walisongo, sedangkan kebanyakan mereka tidak saling mengenal keluarga dari jalur lain, maka didirikanlah Robithoh Azmatkhan pada tahun 2005 di Pesantren Tattangoh Pamekasan dan dikukuhkan pada hari ahad tanggal 16 syawal 1428 / 28 Oktober 2007 di Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo Jawa Timur.
Robithoh Azmatkhan didirikan untuk tujuan-tujuan penting sebagai berikut:
1. mengamalkan sabda Rasulullah SAW:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلكِنَّ الْوَاصِلَ إِذَا انْقَطَعَ رَحِمُهُ وَصَلَهُ
“Bukanlah orang menyambung keluarga itu yang saling membalas, melainkah orang yang apabila ada keluarga yang terputus maka iapun menyambung keluarga itu.”
2. Memanfaatkan hubungan keluarga untuk mempererat hubungan para Kiai dan tokoh Indonesia yang kebanyakan masih keturunan Walisongo. Harapannya, kebersatuan mereka akan membawa kebaikan untuk ummat.
3. Mendata seluruh keluarga keturunan Azmatkhan untuk diketahui kondisi agama dan ekonominya, untuk kemudian diadakan pembinaan pada keluarga yang kurang pengetahuan agamanya dan lemah ekonominya, karena tidak sedikit keluarga yang menyimpan silsilah dengan rapi tapi agama dan ekonominya memperihatinkan.
4. Mensosialisasikan ajaran dan manhaj leluhur, khususnya kepada generasi muda keluarga keturunan Azmatkhan, agar meneladani leluhur, khususnya ajaran dan manhaj Walisongo.

Susunan Pengurus Pusat Robithoh Azmatkhan Maktab Indonesia
Periode (Masa Bakti 2008-2013)
Majlis Ta'sisi / Pendiri:
1. KH. Ahmad Ridho bin Shonhaji Azmatkhan (Pesantren Tengginah Tattangoh Pemekasan Madura)
2. KH. Ali bin Badri Azmatkhan (Lembaga Dakwah & Pesantren Al Furqon, Cirebon)
3. KH. Drs. MH. Mutawakil Alallah bin Hasan Saifour Rizal Azmatkhan, MM (Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo).
4. KH. Abdul Bar bin Hasan Saifour Rizal Azmatkhan, MM (Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo).
5. KH. Saiful Islam bin Saifour Rizal Azmatkhan (Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo).
6. KH. Tb. Fathul Adhim bin Ahmad Khotib Azmatkhan (Yayasan Khazanah Kesultanan Banten)
7. KH. Dr. Burhanul Arifin Azmatkhan. (Pesantren Terpadu Sabilul Huda Batu & Dosen Unisma Malang).
8. KH. Hasan bin Abu Bakar Azmatkhan (Pesantren Benda Kerep Cirebon.
9. KH. Fawa’id bin As’ad Azmatkhan (Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo Jatim).
10. KH. Tb. Ahmad Zen bin A Junaidi Azmatkhan, (Pesantren Manarul Huda Sukabumi Jawa Barat).
11. KH. Mas’udi bin Busyiri Azmatkhan, Lc (Pesantren An Nur I Bululawang Malang).
12. KH. Tb. Saifuddin bin Abdullah Azmatkhan (serang Banten)
Majlis Mustasyar:
Ketua : KH. MH. Mutawakil Alallah Azmatkhan, MM (Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo)
Wakil Ketua : KH. Tb. Fathul Adhim Khatib Azmatkhan (Yayasan Khazanah Kesultanan Banten)
Anggota :
1. KH. Dr. Burhanul Arifin Azmatkhan. (Pesantren Terpadu Sabilul Huda Batu/Dosen Unisma Malang)
2. KH. Saiful Islam bin Saifur Rijal Azmatkhan (Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo)
3. KH. Hasan bin Abu Bakar Azmatkhan (Pesantren Benda Kerep Cirebon Jawa Barat)
4. KH. Fawa’id bin As’ad Azmatkhan (Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo Jawa Timur)
5. Sultan Raja Emiruddin (Keraton Kanoman Cirebon)
6. Sulthan Raja Abdul Ghani Natadiningrat (Keraton Kacirebonan Cirebon)
7. Pangeran Nur Hidayat Prabuningrat (Keraton Kacirebonan).

Majlis Niqobah / Pengurus Harian :
Ketua Umum : KH. Ahmad Ridho bin Shonhaji Azmatkhan (Pesantren Tengginah Tattangoh Pemekasan Madura)
Ketua I : KH. Isma’il bin Muhtadi Azmatkhan (Pesantren Benda Kerep Cirebon Jawa Barat)
Ketua II : Tubagus H. Dedi Zainuddin Azmatkhan (Serang Banten Banten)
Ketua III : KH. Mas’udi Busyiri Azmatkhan, Lc (Pesantren Al-Azhar An Nur I Bululawang Malang)
Sekretaris Umum : KH. Ali bin Badri Azmatkhan (Lembaga Dakwah & Pesantren Al-Furqan, Cirebon Jawa Barat)
Wakil Sekretaris : Kyai Muhammad bin Hasan Azmatkhan (Pesantren Bendakerep Cirbon).
Bendahara : KH. Ahmad bin Hasan AzmatKhan (Pesantren Bendakerep Cirbon)
DEPUTI-DEPUTI :
Bidang Statistik, Penelitian dan Pendataan Silsilah Keluarga
KH. Ali bin Badri Azmatkhan (Cirebon)
KH. Abdul Bar bin Hasan Saifour Rizal Azmatkhan (Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo).
Kyai Jazuli bin Zuhdi Azmatkhan (Sampang Madura)
KH. Romli bin Ma’mun Azmatkhan (Nazhir Makam Maulana Yusuf Banten)
KH. Abdul Hannan Nawawi Azmatkhan (Pesantren Darul Fatwa, Kuanyar Bangkalan Madura)
Bidang Da'wah, Organisasi dan Kaderisasi
KH. Tb. Syaifuddin Abdullah Azmatkhan (Serang Banten)
KH. M. Mushthofa Agil Azmatkhan (Pesantren Kempek Cirebon)
KH. Abdul Mu'iz Tirmidzi Azmatkhan (Pesantren Sayyid Muhammad Al-Maliki - Koncer Bondowoso Jawa Timur)
Bidang Ekonomi, Koperasi, Kewirausahaan dan UKM
KH.Tb. Ahmad Zen Azmatkhan (Pesantren Manarul Huda Suka Bumi Jawa Barat)
Bidang Investasi, pengembangan Usaha dan Penggalian dana
Tubagus H. Edi Kusnadi Azmakhan, Jakarta
Drs.H.Eman Suryaman, MM ( Cirebon )

Sumber dari : http://azmatkhanalhusaini.com